Kamis, 01 Februari 2018

Jika Menghendaki Ma'rifat Kepada Allah, Harus Tahu Diri

MENGENAL DIRI

Sabda Rasulullah s.a.w. : MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA RABBAHU.
Artinya: Barang siapa mengenal dirinya,niscaya mengenal akan Tuhannya.

Jadi sebelum mengenal Tuhan, kenallah diri. Perjalanan itu kita mulai dari dalam diri kita sendiri, dari dalam terus kedalam, akhirnya serba alam dan keindahannya dan dengan keganjilannya : hanyalah sebagai pencari diri.
Alam ini penuh dengan rahasia-rahasia yang tersembunyi. Rahasia itu tertutup oleh dinding-dinding, dinding- dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri, atau yang disebut nafsu kita sendiri, atau disebut pula nafsu saiton, atau dengan kata lain ialah : nafsu lawammah atau nafsu sawiyah atau nafsu yang batal/agiar. Dinding-dinding itu mungkin tersimbah dan terbuka, asal kita sudi menempuh jalannya, jalannya ialah : jalan yang ditempuh oleh orang arif, dan mau mengurangi sedikit dari hawa nafsu kebendaan. Dan sanggup menyisihkan segala halangan dan rintangan yang hendak menggagalkan niat kita yang baik itu. Jadi yang hendak kita kenal ini bukanlah diri yang kasar ini. Tetapi diri yang bersifat ketuhanan.

Diri kita ini ada dua unsur :
Pertama unsur jasad atau badan kasar.
Kedua unsur Ruh atau badan latif.

Ruh itu erat sekali pertaliannya dengan Tuhan. Memang sudah hamba katakan dahulu bahwa RUH itu adalah suatu Rahasia yang amat pelit sekali. Jadi yang sebenar –benar Ruh itu Nur Muhammad.
Jadi yang sebenar-benar Nur Muhammad itu Sifat. Sebenar-benar sifat itu ialah Zat. Jadi Zat itu Zat Hayat,bukan Zat Hayun. Jadi Allah adalah nama Zat, dan Muhammad nama Sifat.
Zat dan Sifat itu tiada bersatu dan tiada bercerai.

Sekarang marilah kita teruskan untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan Allah Azzawazalla.
WA NANKAANAFI HADJIHI AMA FAHUWA FIL AKHIRATI A’MA WA‘ADHOLLU SABBILA, artinya : Barang siapa buta dalam dunia ini, niscaya buta juga di akhirat sesat di jalan.
Seratus dua puluh empat ribu nabi-nabi ditutus Tuhan kedalam dunia ini, adalah untuk mengajar dan memimpin umat manusia, untuk cara-cara membersihkan bathin atau qalbu, supaya dapat ma’rifat dan mengenal Allah. Tujuan utama ialah : agar memperoleh kebahagiaan jiwa, dan ketenangan bathin. Karena yang sebenar-benar Kaya itu ialah kebahagiaan jiwa dan kebersihan hati.
Inilah tujuan utama bagi alat jiwa manusia ini. Inti daripada segala kebahagiaan itu ialah : Ma’rifatullah. Jadi siapa yang sudah Ma’rifat itulah sorga dunia dan sorga akhirat nanti. Dan siapa belum/masih terdinding itulah neraka dunia dan neraka akhirat nanti.
Jadi barang siap tidak ada  hasrat memiliki ilmu ini maka samalah ia makan nasi bercampur pasir. Ma’rifat itu adalah suatu amanah dari tuhan yang wajib kita tuntut dan kita tuju.

SEBELUM MENGENAL TUHAN, KENALLAH DIRI.

MENGENAL DIRI :
Diri itu ada dua unsur :
1.      Diri jahir berupa jasad.
2.      Diri bathin berupa Ruh.

Dan diri itu dapat pula dibagi atas 3 unsur :
1.      Diri yang Hak. (diri yang sebenarnya)
2.      Diri terperi. (Muhammad)
3.      Diri terdiri. (Adam).

Dan Ruh itu ada tiga Martabat :
1.      Ruh idhofi (nafas yang keluar masuk)
2.      Ruh mukayyat (yang mengedari/yang bergerak keseluruh tubuh)
3.      Ruh mutlak (yang tetap pada tempatnya)

Dan Zat itu ada tiga Asma :
1.      ZAT illahiyah
2.      ZAT masbiyah
3.      ZAT addahiyah.

Dan diri jahir ada dua unsur bahagi pula :
1.      Jasad yang mengandung Ruh.
2.      Ruh yang mengandung Jasad.

Dan diri kita ini mengandung dua aspek.
1.      Diri yang bersifat ketuhanan (lahud)
2.      Diri yang mengandung kehambaan (nasud)

Dan dalam diri kita ini mengandung tiga Rahasia.
1.      Rasa yang Hak (rasa tuhan)
2.      Rasa Muhammad (Nur Muhammad)
3.      Rasa Adam (rasa yang tercela).

Dan didalam diri kita ini ada suatu perbendaharaan yang tersembunyi : disitu ada mahligai. Didalam mahligai itu ada alat yang halus ada yang kasar. Kesemuanya itu adalah berupa amanah tuhan dan suatu titipan Tuhan kepada hambanya. Amanah itu ialah suatu titipan Ruh dan itulah yang wajib kita pelihara dan kita jaga kemurniaannya. Ruh inilah yang sanggup mengenal Tuhannya. Dan yang sanggup melaksanakan sebagai khalifah di dalam bumi ini.

Apakah alat yang halus dan kasar itu tadi?,
Sekarang marilah kita uraikan satu persatunya.
Adapun diri kita ini ada dua unsur/macam.

Pertama diri jahir berupa jasad.

Batang tubuh dengan kelengkapannya seperti ; kaki,tangan,mata hidung,mulut telinga,dan lainnya. Serta dalam tubuh ini ada Ruh,hati,akal dan nafsu. Yang kesemuanya itu tergolong alam yang disebut alam sagir (alam kecil).Yang kesemuanya itu terjadi dari unsur2 api,angin,air dan tanah/bumi. Inilah yang disebut laksana kuda tunggangan yang menjadi alat bagi hakikat Roh itulah sebagai penunggangnya.

Kedua diri bathin yang berujud qalbu atau Ruh.

Bukannya ber-ujud benda dalam tubuh, dan dia tidak akan binasa untuk selamanya. Dialah yang sanggup memerintah jasad, dialah yang mampu mengenal Allah. Dialah Raja kuasa. Ruh itu raja kuasa dan sanggup mengenal Allah.  Apakah sebabnya dikatakan raja kuasa?, Sebabnya ialah kerena ruh itu adalah yang menjadi tempat  majhor kenyataan terang benderangnya sifat-sifat  Allah. Ruh Muhammad itulah/adalah dari NUR menyata. Itulah yang dikatakan cahaya yang cerlang cemerlang yang tiada harapan : Tuhan bertajali kepadanya. Sebab sifat sifat Allah itu ada pada ZATnya. Maka apabila kita mendakwa kepada Ruh, maka haruslah ditembuskan pandangan kita kepada Sifat dan Zat Allah.supaya tidak terdinding lagi kepada Allah.
Kalau kita terhenti kepada ruh itu saja, tidak kita teruskan kepada Allah, maka kita terdinding kepada Allah. Kalau masih betah berdiam kepada Muhammad, ber-arti belum kembali atau belum pulang landas kepangkalannya. Kalau sudah pernah tinggal landas inilah yang dikatakan orang yang bergembira setiap saat. Sedangkan Rasulullah sendiri sebagai asal usul segala kejadian,toh beliau pulang kembali kepangkalannya,apalagi kita ini.

" Jangan dipikirkan, tapi dirasakan........"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar